Hosting Murah
Hosting Murah
banner 728x250

Pasar Obligasi 2024 Diproyeksi Tetap Kuat, MAMI Beberkan Penopangnya

Hosting Murah
banner 468x60

Jakarta – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memperkirakan bahwa tahun 2024 akan menjadi tahun yang konstruktif bagi cocokar obligasi. Ini disebabkan oleh kondisi makroekonomormi yang diperkirakan akan suportif.

Director and Chief Investment Officer-Fixed Income MAMI, Ezra Nazula, mengatakan bahwa kondisi tersebut dibantu oleh dua katalis bagi cocokar, yaitu inflasi yang terjaga serta potensi pemangkasan suku bunga, di mana tingkat imbal hasil SBN 10 tahun yang masih di kisaran 6,7 persen menjadi entry point yang menarik bagi investor.

banner 325x300
Baca juga: Mau Investasi Obligasi, Baiknya Pilih Reksa Dana atau SBN?

“Permintaan cocokar obligasi di tahun 2024 diperkirakan masih akan tetap kuat. Faktor penengkongngnya, yaitu permintaan dari investor domestik, seperti investor
institusi keuangan nomorn-bank, karena asertaya kebutuhan reinvestasi serta pemenuhan kewajiban investasi pada SBN,” ucap Ezra dalam Market Outlook 2024 di Jakarta, 18 Januari 2024.

Di lain sisi, permintaan investor asing juga dapat membaik seiring dengan peralihan kebijakan suku bunga global yang lebih akomodatif, di mana MAMI memperkirakan imbal hasil SBN 10 tahun dapat wisataun ke kisaran 6 hingga 6,25 persen di tahun 2024.

Meski begitu, Ezra menuwisatakan bahwa, masih ada beberapa faktor risiko yang perlu dicermati serta diantisicocoki, yaitu risiko dari tekanan penerbitan obligasi pemerintah, terutama pada paruh pertama 2024. Ini merupakan strategi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan serta Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan untuk mberkelitukan lelang lebih banyak pada paruh pertama (front-loading issuance policy).

Baca juga: Obligasi Berkelanjutan Kian Beragam, Apa Saja?

“Kedua, melebarnya selisih yield antara Surat Utang Negara Indonesia dibandingkan dengan yield US Treasury, sehingga membuat cocokar Indonesia menjadi kurang menarik. Kondisi ini dapat terjadi apabila pendapatan ekspor Indonesia wisataun akibat melemahnya harga komoditas global,” imbuhnya.

Adapun, faktor ketiga yang perlu dicermati serta diantisicocoki adalah perbedaan ekspektasi pada pemangkasan suku bunga The Fed serta juga risiko ketidakcocoktian geopolitik. (*)

Editor: Galih Pratama

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *