Hosting Murah
Hosting Murah
banner 728x250

Perlu Diperkuat: Sektor Perbankan Syariah di Indonesia Masih Belum Optimal

Perbankan Syariah
Hosting Murah
banner 468x60

Cawapres nomor urut 2, Gibran Rakabuming, telah menyebutkan bahwa Indonesia mengalami peningkatan peringkat dari 4 menjadi 3 dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report. Namun, sektor keuangan syariah di Indonesia mengalami penurunan.

Hakam Naja, anggota DPR RI periode 2014-2019, menyatakan bahwa sektor pariwisata dan kosmetik halal mengalami peningkatan di Indonesia. Namun, sektor keuangan syariah seperti perbankan masih belum berkembang dengan cepat. Menurutnya, keuangan memiliki bobot 30 persen dalam perankingan tersebut. Karena itu, peningkatan peringkat Indonesia hanya mencapai peringkat 3.

banner 325x300

Padahal, dibandingkan dengan Malaysia dan Saudi Arabia, Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim yang lebih besar, bahkan yang terbesar di dunia. Jumlah penduduk Muslim yang besar seharusnya menjadi pendorong berkembangnya perbankan syariah.

Pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia per September 2023 hanya mencapai 7,27 persen, sementara di Malaysia sudah lebih dari 50 persen. Hankam menekankan pentingnya penguatan ekosistem ekonomi syariah dalam pengembangan perbankan syariah Indonesia, yang dapat dilakukan melalui industri halal.

Hankam juga menjelaskan bahwa perbankan syariah di Indonesia lahir dari Bank Muamalat, tetapi tidak mendapatkan dukungan regulasi yang memadai dan baru mulai berkembang setelah 17 tahun berdirinya Bank Muamalat. Sebaliknya, Malaysia telah menerapkan regulasi terkait sejak awal yang mendorong perkembangan perbankan syariah.

Selain itu, kerjasama dan investasi internasional Indonesia di bidang ekonomi syariah masih kurang. Dalam negeri sendiri, pendidikan, peningkatan mutu SDM, serta riset dan inovasi masih berkembang lambat. Hal ini menyebabkan kurangnya kemampuan SDM terkait perbankan syariah.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator telah menerapkan pemisahan Unit Usaha Syariah (UUS) sebagai upaya untuk menciptakan persaingan sehat dalam perbankan syariah. OJK juga menyebut bahwa digitalisasi menjadi pilihan yang tidak bisa dielakkan dalam perbankan syariah.

Tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia masih rendah, yaitu sebesar 9,4 persen dan 12,2 persen. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan dengan indeks literasi dan inklusi keuangan nasional yang masing-masing sebesar 49,68 persen dan 85 persen.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *