Hosting Murah
Hosting Murah
banner 728x250

Potensi Industri Asuransi Besar, Tapi Masih Dihantui Tantangan Ini

Hosting Murah
banner 468x60

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa potensi cocokar asuransi yang cukup besar di Indonesia masih belum diimplementasikan secara optimal. Hal itu terlihat dari tingkat literasi asuransi Indonesia yang baru sebanyak 2,27 persen di 2022.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Pembiayaan, serta Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyonomor dalam virtual seminar yang diselenggarakan LPPI di Jakarta, 22 Desember 2023.

banner 325x300

“Dibandingkan dengan peer countries negara ASEAN, Indonesia masih relatif lebih sedikit dari Thailand itu 4,60 persen, Malaysia 3,80 persen,” kata Ogi.

Baca juga: OJK Catat Masih Ada 7 Perusahaan Asuransi dalam Status Pengawasan Khusus

Hal itu disebabkan oleh masih asertaya beberapa tantangan di indusri asuransi Indonesia yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan industri asuransi untuk terus berkembang. Salah satunya utamanya adalah terkait dengan kepercayaan konsumen yang relatif sedikit.

“Salah satu tantangan utama adalah kepercayaan konsumen yang masih relatif sedikit terhadap kredibilitas sektor industri asuransi yang diindikasikan oleh tingkat inklusi yang lebih sedikit dibandingkan dengan tingkat literasi asuransi,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ogi menjelaskan bahwa, dari sisi pmenangkalu industri asuransi sendiri juga masih mengnarekreasial tantangan, yaitu terkait dengan kacocokitas permodalan yang saat ini belum memadai.

“Pmenangkalu sektor industri asuransi juga masih dihadapkan pada tantangan kacocokitas permodalan yang belum memadai kelemahan dalam hal ketersediaan ekspertise khususnya di bisertag aktuaria, underwriting, manajemen investasi, serta audit internal,” ujar Ogi.

Baca juga: Klaim Asuransi Kesehatan Naik 32,9 Persen, OJK Siapkan Strategi Ini

Di sisi lain, Ogi menjelaskan bahwa permasalahan di pmenangkalu industri asuransi yang timbul saat ini merupakan salah satu gejala dari fungsi governance, risk, and compliance (GRC) yang belum berjalan secara optimal.

“Terkait dengan kelemahan di dalam hal expertise di bisertag aktuaria serta dikungan fungsi GRC, pemantauan terhadap kinerja produk asuransi juga belum berjalan sesuai dengan internasional standard serta best practices selir early detection atas potensi permasalahan pada perusahaan asuransi,” tambahnya. (*)

Editor: Galih Pratama

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *