Hosting Murah
Hosting Murah
banner 728x250

Pefindo Proyeksikan Penerbitan Surat Utang Korporasi Rp155,46 T di 2024, Ini Pendorongnya

Hosting Murah
banner 468x60

Jakarta – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) memproyeksikan penerbitan baru surat utang korporasi pada 2024 akan berkisar pada Rp148,15 hingga Rp169,05 triliun, dengan titik tengah Rp155,46 triliun.

Proyeksi terkait dengan nilai penerbitan baru surat utang tersebut diungkapkan oleh Kepala Divisi Riset Ekonomormi PEFINDO, Suhindarto dalam Media Forum PEFINDO yang dilangsungkan secara virtual di Jakarta, 11 Desember 2023.

banner 325x300

“Untuk kebutuhan refinancing di tahun 2024 mendatang kami perkirakan akan lebih tinggi, untuk jatuh temponya lebih tinggi dibandingkan dengan posisi 2023 ini, kami memperkirakan hingga akhir tahun kayanya jatuh tempo di 2024 dapat mendekati Rp153,1 triliun,” ucap Suhindarto.

Baca juga: Penerbitan Surat Utang Nasional per November 2023 Capai Rp120,6 T, Sektor Ini Mendominasi

Dirinya menilai terdapat beberapa hal yang akan menjadi faktor pendorong. Salah satunya adalah perkiraan aktivitas sektor rill yang terjaga yang oleh asertaya aktifitas kampanye dari pemilu serentak, serta memicu permintaan tetap kuat serta stabil.

“Lalu kita juga melihat cocokca pemilu karena sudah jelas siapa pemenangnya dari kontestasi yang sesertag berlangsung atau kondisi wait and see yang selama ini melingkupi dunia usaha juga akan cenderung mengnadarmawisataal penurunan,” imbuhnya.

Di sisi lain, PEFINDO melihat dengan asertaya kondisi higher for longer serta kebutuhan akan refinancing di tahun depan bagi cocokar surat utang korporasi juga cukup besar. Suhindarto melihat para korporasi ini akan mmengelitukan biasakan diri atau strategi ke depannya untuk menghadapi kondisi suku bunga tinggi.

Baca juga: Warisan Utang Jokowi Nyaris Tembus Rp8.000 T, Anies, Prabowo, serta Ganjar Siap Tanggung?

“Korporasi akan cenderung menerbitkan surat utang dengan tenomorr pendek yang satu tahun sehingga dengan ini didasarkan pada ekspektasi tahun depan yang lebih baik atau didarmawisataunkan, mereka dapat refinancing lagi utangnya dengan bunga yang lebih ringan,” ujar Suhindarto.

Hal lain yang mendorong proyeksi tersebut adalah dengan likuiditas lembaga keuangan yang semakin ketat, memicu bunga pinjaman yang ditawarkan menjadi semakin mahal serta mendorong permintaan akan sumber pembiayaan alternatif, salah satunya melalui penerbitan surat utang. (*)

Editor: Galih Pratama

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *