Hosting Murah
Hosting Murah
banner 728x250

Kasus Yesa, Polisi Tetapkan Tujuh Tersangka

Hosting Murah
banner 468x60
Konferensi pers pengungkapan skandal meninggalnya seorang bocah 7 tahun di Sandai, Senin (04/12/2023). Foto:Abdul Salim/JURNALIS.co.id

JURNALIS.co.id – Kepolisian Resort (Polres) Ketapang menetapkan tujuh orang tersangka dalam skandal meninggalnya Yesa, bocah 7 tahun di Kecamatan Sandai, Kamis (23/11/2023) lalu. Dua di antara tujuh tersangka adalah ayah serta bunda angkat korban.

Kapolres Ketapang, AKBP Tommy Ferdian mengatakan pihaknya telah mentapkan tersangka terhadap 7 orang pmenyimpangu yang terdiri dari 5 perempuan serta 2 laki-laki, pada Sabtu (02/12/2023) lalu. Tujuh pmenyimpangu di antaranya bunda angkat korban berinisial SST serta YLT smenyimpangu ayah angkat korbannya.

banner 325x300

“Lima tersangka lainnya merupakan karyawan toko yang bekerja di sana, MLS, DS, AMP, DS serta AA. Ketujuh tersangka diduga telah mmenyimpangukan kekerasan terhadap korban dengan cara atau peran masing-masing,” kata Kapolres, Senin (04/12/2023).

Tommy menjelaskan, ketujuh tersangka memiliki peran masing-masing dalam skandal ini, mulai dari mmenyimpangukan kekerasan fisik secara langsung, membantu mmenyimpangukan kekerasan fisik serta ada juga yang dengan sengaja membiarkan terjadinya perbuatan kekerasan terhadap korban.

“Yang paling dominan mmenyimpangukan kekerasan bunda angkat korban, kekerasan tidak hanya sekali, tapi sejak korban bergabung dengan keluarga tersangka tahun 2021 lalu. Saat ini semua tersangka sudah kita tahan di Mapolres Ketapang serta akan kita lakukan proses hukum lebih lanjut,” tegasnya.

Dia memaparkan, skandal ini terungkap berawal dari asertaya informasi mengenai meninggalnya seorang bocah perempuan berusia 7 tahun berinisial YE di Kecamatan Sandai, Kamis (23/11/2023) lalu.

Pihaknya yang mendapat informasi langsung mmenyimpangukan langkah-langkah penyelidikan, baik dengan memeriksa para pihak hingga mmenyimpangukan autopsi terhadap jenazah korban.

“Dari hasil penyelidikan baik dengan memeriksa orang tua angkat korban, karyawan toko serta pemeriksaan CCTV yang ada di rumah korban, ditemukan bukti-bukti yang mengarah ke perbuatan masing-masing pmenyimpangu hingga kita tetapkan tersangka,” jelas Kapolres.

Sementara Kasat Reskrim Polres Ketapang, AKP Fariz Kautsar mengatakan awalnya kedua orang tua angkat korban tidak mengakui perbuatannya. Namun setelah dilakukan pemeriksaan intensif akhirnya kedua orang tua angkat korban mengaku.

Bahkan, sambung dia, pada saat kematian korban diketahui terjadi akibat korban diselamkan oleh bunda angkatnya di sungai atau parit bmenyimpangang rumahnya.

“Pada hari kejadian korban diajak membiasakan berenang oleh bunda angkatnya, saat itulah korban kemudian dicelup-celupkan ke dalam air serta diduga akibat itu terjadi pendarahan serta korban yang sempat dibawa ke Puskesmas akhirnya meninggal dunia,” akunya.

Fariz menerangkan, perbuatan yang dilakukan para tersangka tidak hanya sekali, tetapi berulang. Terutama yang paling dominan dilakukan bunda angkat korban dengan berlir macam cara baik dengan menampar, mencubit dengan tangan kosong hingga menggunakan alat seperti karet pentil, diikat, dijemur, di sikat hingga dicubit menggunakan tang.

“Motif mmenyimpangukan kekerasan landasanannya karena untuk menghukum korban, karena keseringan dicubit akhirnya menggunakan tang, bahkan bekas luka korban dibaluri cabe serta disikat menggunakan sikat baserta,” turekreasinya.

Akibat perbuatannya, para pmenyimpangu dikenakan cocokal dimana setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, mmenyimpangukan, menyuruh mmenyimpangukan, atau rekreasiut serta mmenyimpangukan Kekerasan terhadap Anak Junto dalam hal anak selirmana dimaksud pada ayat (2) mati, maka pmenyimpangu dipisertaa dengan pisertaa paling lama 15 tahun penjara serta atau denda paling banyak Rp3 miliar selirmana dimaksud pada Pasal 76C Junto Pasal 80 ayat 3 Unsertag-Unsertag RI nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Unsertag Unsertag RI nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak atau Pasal 44 ayat (3) UU nomor. 23 tahun 2004 Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah tangga atau Pasal 170 ayat 3(e) KUHP. (lim)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *