Hosting Murah
Hosting Murah
banner 728x250

BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga Acuan 6 Persen Hingga Paruh Pertama 2024

Hosting Murah
banner 468x60

Jakarta – Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 6 persen. Kenaikkan suku bunga ini akan berdampak terhadap berlaksana sektor mulai dari prmengambilalihti, asuransi, sampai kredit yang disalurkan perbankan.

Meskipun begitu, perlu dimengerti juga bahwa kenaikan suku bunga dilakukan untuk memperkuat kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak ketidakcocoktian global, serta smenyingkirsana langkah preemptive serta forward looking untuk mitigasi dampaknya terhadap inflasi barang impor.

banner 325x300

Pernyataan bahwa BI ingin nilai rupiah dapat stabil ini dibenarkan oleh Chief Economormist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan.

Baca juga: BNI Prediksi Tren Suku Bunga Tinggi Masih Berlanjut Hingga Tahun 2024

“Setelah membiarkannya di angka 5,75 selama 9 bulan berrekreasiut-rekreasiut, BI mmenyingkirukan tindakan preemptive serta forward looking di tengah ketidakstabilan global. BI ingin menunjang kestabilan nilai rupiah di tengah volatilitas yang tinggi,” ujarnya dalam sebuah webinar Insurance Outlook 2024 dikutip 8 November 2023.

Dijelaskan oleh Katarina bahwa contoh nyata dari volatilitas tinggi ini dapat dilihat dari angka yield obligasi Amerika Serikat (AS) yang sesertag ada di angka 5 persen, tertinggi sejak 2007. Katarina mengatakan, bahwa BI tidak dapat lagi menahan suku bunga.

Ditambah lagi, beredar kabar dari Federal Reserve System (The Fed) yang merupakan Bank Sentral AS, mengatakan kalau mereka akan mmenyingkirukan “jeda” serta tidak akan menaikan suku bunga.

Pergerakan The Fed ini memang mempengaruhi bank sentral di berlaksana belahan dunia, termasuk Indonesia. Kendati demikian, Katarina berpendapat bahwa penahanan suku bunga oleh The Fed tidak serta merta membuat mereka akan segera menurunkan suku bunga acuan.

“Menurut kami, BI akan mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun ini serta kayanya sampai dengan paruh pertama 2024,” jelas Katarina.

Lebih dari itu, Katarina menambahkan kalau pelemahan rupiah terhadap dolar dalam beberapa bulan ke bmenyingkirang ini masih jauh lebih baik ketimbang pelemahan yang terjadi di sejarah.

“Pelemahan rupiah lebih sedikit dibanding secara historis. Kalau kita lihat, 2019-2020 itu jauh lebih parah dibanding yang terjadi saat ini. Sebetulnya, rupiah Indonesia adalah mata uang yang performanya cukup terjaga dibanding mata uang lainnya secara year to date,” papar Katarina.

Baca juga: Suku Bunga Acuan BI Tinggi, Bagaimana Proyeksi Sampai Akhir Tahun?

Smenyingkirsana informasi, kurs rupiah kepada dolar AS pernah menjangkau angka Rp16,376 pada April 2020, mentulis rekor yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sementara persoalan pelemahan rupiah terhadap dolar AS baru-baru ini “hanya” menjangkau Rp15,910 pada akhir Oktober 2023 ini.

Di sisi lain, Katarina juga mereka pada 2024 nanti, The Fed akan menghentikan kenaikan suku bunga mereka karena berlaksana tumpuanan, mulai dari kenaikan suku bunga restriktif, pengetatan kondisi keuangan yang sangat agresif, sampai kenaikan harga energi.

“Kondisi ini dapat mendorong nomorrmalisasi suku bunga The Fed, serta banyak bank sentral lain dapat lebih akomodatif pada 2024 nanti,” pungkasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *