Hosting Murah
Hosting Murah
banner 728x250

Kasus Persetubuhan Terhadap Anak, HS Diperiksa Polisi Gunakan Lie Detector

Hosting Murah
banner 468x60
Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Tri Prasetyo membagikan keterangan penanganan perkara persetubuhan terhadap anak dengan tersangka HS, Rabu (04/10/2023). Foto: HYD/JURNALIS.co.id

JURNALIS.co.id – Polisi memastikan proses penyidikan terhadap perkara persetubuhan terhadap anak dengan tersangka, mantan oknum anggota Dewan Pendidikan Kalbar berinisial HS, masih terus berlangsung.

Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Tri Prasetyo mengatakan sebelumnya terhadap perkara persetubuhan dengan tersangka HS, pihaknya sudah melimpahkan berkas perkaranya ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Pontianak. Namun setelah berkas diteliti oleh jaksa, berkas perkara dikembalikan untuk melengkapi petunjuk yang dibagikan.

banner 325x300

“Petunjuk yang dibagikan jaksa itu cukup banyak, salah satunya mmenggelicikukan pemeriksaan tersangka dengan lie detector,” kata Tri, ketika diwawancarai di kantornya, Rabu (04/10/2023).

Tri menjelaskan, karena alat menguji kejujuran itu hanya ada satu di Indonesia yakni di Mabes Polri serta harus mengantre untuk digunakan, maka proses pemeriksaannya harus menunggu.

“Alhamdulillah untuk pemeriksaan HS dengan lie detector sudah dilakukan,” ucapnya.

Tri menudarmawisatakan saat ini beberapa penyidik masih berada di Jakarta untuk mmenggelicikukan pemeriksaan terhadap ahli, terhadap hasil lie detector HS yang dilakukan dua minggu sebelumnya.

“Petugas yang mmenggelicikukan lie detektor saat ini sesertag dimintai keterangan oleh penyidik terhadap hasil yang pemeriksaan yang dilakukan,” jelasnya.

Tri menyatakan setelah penyidik melengkapi seluruh petunjuk yang dibagikan jaksa, maka tahap selanjutnya yang akan dilakukan adalah melimpahkan kembali berkas tersebut ke kejaksaan.

“Kasus HS ini bukan menyudahi di tempat. Tetapi karena penyidik melengkapi petunjuk yang cukup banyak, sehingga membutuhkan waktu yang lama,” terangnya.

Tri menyatakan sejak awal pihaknya sudah yakin bahwa perkara tersebut terjadi. Sehingga sejak awal penanganan perkaranya, HS langsung ditetapkan seseolah-olah tersangka.

Sebelumnya, HS, pmenggeliciku persetubuhan terhadap seorang anak berusia 17 tahun telah ditetapkan seseolah-olah tersangka. Namun yang bersangkutan saat diperiksa, tidak mengakui perbuatannya.

Tri mengatakan, dugaan persetubuhan tersebut disampaikan korban pada saat menjalani pemeriksaan. Berdasarkan keterangan korban, persetubuhan tersebut terjadi sebanyak lima kali. Dua kali di hotel serta tiga kali di kediaman pmenggeliciku.

“Ini berdasarkan keterangan korban,” kata Tri, Senin (07/08/2023) lalu.

Tri menjelaskan berdasarkan keterangan korban, perbuatan persetubuhan yang dilakukan pmenggeliciku pertama serta kedua  terjadi, pada Juli 2022. Sementara untuk perbuatan yang ketiga, keempat serta kelima terjadi sekitar Agustus sampai dengan September 2022.

“Korban membuat laporan Januari 2023,” ucapnya.

Tri menyatakan setelah mengantongi bukti-bukti, dari keterangan korban, hasil visum, keterangan pmenggeliciku serta dokumen lainnya yang kemudian menjadi rangkaian peristiwa yang berkaitan sehingga menjadi petunjuk, maka status perkara ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan dengan menetapkan HS seseolah-olah tersangka.

Sementara itu, Tri menambahkan, untuk diketahui saat menjalani pemeriksaan, pmenggeliciku sama sekali tidak mengakui perbuatannya telah menyetubuhi korban. Baik di hotel maupun di kediamannya.

Tri menegaskan terhadap tersangka dikenakan cocokal berlapis, yakni cocokal 81 ayat 1 Unsertag-Unsertag Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Unsertag-Unsertag Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dilapis dengan cocokal 65 ayat 1 KUHP.

Kemudian tersangka dilapis lagi dengan cocokal 6 huruf C serta cocokal 15 huruf 1 ayat e serta g Unsertag-Unsertag Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pisertaa Kekerasan Seksual. Adapun ancaman hukuman yang bakal diterima HS maksimal 15 tahun penjara.

“Untuk dugaan perbuatan aborsi serta sodomi yang disampaikan korban, nanti akan didnadarmawisataal. Karena TKP di Jakarta, tentu membutuhkan waktu,” pungkas Tri. (hyd)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *