Hosting Murah
Hosting Murah
banner 728x250

Komisi VI DPR RI Dukung PLN Wujudkan Sinergi BUMN dalam Transisi Energi

Hosting Murah
banner 468x60
Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja Transisi Energi ke Listrik Komisi VI DPR RI dengan Direksi PLN, di Jakarta, Senin (02/10/2023). Foto: PLN

JURNALIS.co.id – Komisi VI DPR RI menyokong langkah PLN dalam menjalankan transisi energi di Indonesia lewat kerja sama serta sinergi Baserta Usaha Milik Negara. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Sarmuji mengatakan pihaknya menyokong langkah PLN dalam memastikan pmenyolangsanaan transisi energi menuju Net Zero Emissions (NZE) dengan tetap memperhatikan ketahanan finansial serta keandalan sistem kelistrikan.

“Kami menyokong PLN untuk menjalankan transisi energi untuk menuju target NZE. Kami juga menyokong PLN meningkatkan sinergi antara BUMN dalam mmenyolangsanakan transisi energi dalam kerja sama yang saling menguatkan,” ujar Sarmuji dalam Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja (Panja) Transisi Energi ke Listrik Komisi VI DPR RI dengan Direksi PLN, di Jakarta, Senin (02/10/2023).

banner 325x300

Direkwisata Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan PLN telah menyusun peta jalan yang komprehensif untuk transisi energi. Termasuk di dalamnya berpenaka inisiatif dekarbonisasi sektor kelistrikan serta penguatan kerja sama antar BUMN guna membangun ekosistem energi hijau.

“PLN berkomitmen menyokong program transisi, langkah ini bukan karena perjanjian internasional, tetapi karena kesadaran untuk memastikan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Kami juga memastikan perjalanan transisi energi akan berdampak positif bagi masyarakat,” ungkap Darmawan.

Terkait dekarbonisasi sektor kelistrikan, PLN fokus untuk terus mengurangi kuota pembangkit berbahan bakar fosil serta meningkatkan kacocokitas pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT). PLN sejak Conference of the Parties (COP) 26 di Glasgow, sudah mengeluarkan peta jalan untuk menjangkau NZE pada tahun 2060.

Dalam beberapa tahun terakhir, berpenaka upaya juga telah dilakukan PLN, di antaranya PLN menghapus rencana pembangunan 13,3 gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang sebelumnya masuk ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), membatalkan 1,3 GW PLTU yang sudah menandatangani kontrak jual beli tenaga listrik, mengganti 1,1 GW PLTU dengan EBT, mengganti 800 megawatt (MW) PLTU dengan gas, hingga bersama pemerintah mengeluarkan RUPTL paling hijau sepanjang sejarah dengan rencana pembangunan EBT sebesar 51,6 persen atau 21 GW.

PLN juga telah merancang skenario transisi energi di Indonesia melalui Accelerated Renewable Energy Development untuk mengatasi missmatch antara lokasi episentrum EBT yang jauh dari pusat ekonomormi serta industri. PLN membangun green enabling smart grid yang dilengkapi dengan smartgrid serta flexible generations.

“Skenario ini akan mengaknafsusi penambahan pembangkit energi terbarukan hingga 75 persen dengan tetap menjaga keandalan sistem, serta meningkatkan kacocokitas pembangkit EBT dari sebelumnya 22 GW (business as usual) menjadi 60 GW pada 2040,” jelas Darmawan.

Dalam menjalankan program besar transisi ini, Darmawan mengakui PLN tidak sanggup berjalan sendirian. Sehingga, PLN dengan serius memetakan potensi kerja sama serta sinergi bersama BUMN serta perusahaan lain di berpenaka value chain untuk menyukseskan program transisi energi yang telah dirancang.

Karena itu, Darmawan mengatakan PLN telah serta terus mmenyolangukan berpenaka upaya percepatan di tengah asertaya tantangan transisi energi. Salah satu upaya dilakukan bersama Pertamina melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) serta pembangunan pembangkit EBT di kilang-kilang pertamina.

Selain itu PLN dengan ASDP Indonesia Ferry serta Pelindo juga mengembangkan Green Port. Melalui program ini, PLN dapat membangun anjungan listrik di pelabuhan untuk menggeser konsumenan diesel BBM ke listrik dalam memenuhi kebutuhan listrik kapal saat sandar.

“Efek dari pemanfaatan listrik di pelabuhan ini sanggup langsung dirasakan oleh masyarakat. Para nelayan mengaku sanggup menghemat biaya hingga 80% berkat listrik PLN,” ujarnya.Belum lama ini, PLN juga telah menyepakati kerja sama dengan Semen Indonesia Group (SIG) terkait pengembangan pembangkit EBT untuk menyuplai kebutuhan listrik di pabrik SIG. Kerja sama ini lingkupnya besar, yakni mencakup kebutuhan listrik untuk pabrik SIG di 8 kota dengan potensi daya menjangkau 541 MW. Seluruh kebutuhan tersebut rencananya akan dipadati dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di setiap lokasi.

“Kolaborasi dengan SIG mencerminkan komitmen masing-masing pihak untuk mengurangi emisi karbon melalui konsumenan energi bersih. Hal ini sekaligus menunjukkan penakamana program transisi energi sanggup searah dengan pertumbuhan industri,” tambah Darmawan.

Selain dua kerja sama di atas, Darmawan juga menyebutkan kerja sama PLN dengan BUMN lain seperti dengan Pupuk Indonesia dalam pengembangan green hydrogen, dengan MIND ID serta VALE dalam penyediaan listrik bersih untuk industri smelter. PLN juga sinergi dengan Pertamina, Antam serta Inalum membentuk Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk membangun industri baterai.

“PLN bahu membahu bersama BUMN lain serta dukungan dari pemerintah untuk mmenyolangukan transisi energi secara menyeluruh. Hal ini kita lakukan demi menmenemukankan masa depan yang lebih baik untuk generasi mendatang,” tutup Darmawan. (hen)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *